MENGENAL PENDIDIKAN MELALUI PANDANGAN SEJARAH ISLAM

 

 

 

 

 

 

 

By:Mayang Sari Lubis, MA.
Dosen STAI Al-Hikmah Medan

Awal mulanya proses pendidikan disebut dengan Kuttab (lembaga pendidikan dasar) yang berlangsung di rumah para guru (mu’allim, mu’addib) atau di pekarangan sekitar masjid. Materi yang diajarkan pada umumnya adalah puisi dan pepatah-pepatah Arab yang mengandung nilai-nilai tradisi yang baik.

Seorang ilmuwan yang pertama kali menjelaskan tentang Kuttab yaitu Ahmad Syalabi yang menyatakan adanya 2 jenis kuttab, yang membedakannya adalah pada pengajaran (kurikulum), tenaga pengajar dan masa tumbuhnya.

Kuttab jenis pertama mengajarkan tulis baca dengan teks dasar puisi-puisi Arab dan dengan sebagaian besar gurunya adalah non-Muslim. Kuttab pada jenis kedua yaitu sebagai tempat mengajarkan Alquran dan dasar-dasar ajaran agama Islam.

Dari hal ini kita bisa memahami bahwa dalam proses pendidikan Kuttab tidak adanya usaha untuk menyamakan atau berusaha menyatukan antara ajaran agama non muslim dan muslim. Masing-masing berjalan sendiri dan memiliki guru sesuai dengan ajaran agamanya.

Sa’id bin Aslam diberitahukan, bahwa anaknya sudah bisa membuat sejumlah puisi yang romantis. Beliau kemudian menanggapinya dengan berkata, “Biarkan dia. Karena dengan begitu, dia akan cerdas, bersih, dan lembut.”

Sejauh ini kita juga bisa menyimpulkan bahwa masjid berperan penting dalam sejarah pendidikan Islam, suatu hal yang sangat keliru ketika adanya pernyataan masjid tidak boleh digunakan untuk belajar atau mendalami agama, apalagi sampai mencampuri urusan agama orang lain karena pendidikan Kuttab sendiri sudah memiliki perbedaan dari awalnya saat didirikan.

Seyyed Hossein Nasr menyatakan bahwa masjid mulai berfungsi sebagai sekolah pada masa khalifah kedua, yaitu Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra.

Yang lebih menarik adalah jarang sekali adanya pernyataan tentang tipe masjid dalam sejarah.

Penulis akan menjelaskannya dengan mengutip tulisan Prof. Hasan Asari, MA yaitu terdiri dari dua tipe masjid. Pertama, dikenal dengan Al-Jami’, sebagai tempat melaksanakan ibadah shalat Jumat. Kedua dikenal dengan sebutan Masjid, yang memiliki fungsi lebih kecil dan digunakan sebagai tempat ibadah harian yang lain, kecuali salat dan khutbah Jum’at.

Jika kita bandingkan dengan zaman sekarang, barangkali yang dimaksudkan dengan Al-Jami’ merupakan Masjid pada saat ini, serta fungsi Masjid sekarang digantikan dengan penyebutan Musholla.

Guru (Syaikh) yang mengajarkan pada Jami’ diangkat, difasilitasi (digaji) oleh negara dan negara berhak penuh untuk memberhentikan dan menggantikan seorang syaikh dengan yang lain. Akan terjadi perubahan sesuai dengan sistem pemerintahan. Saat ini disebut dengan ASN (Aparatur Sipil Negara), yang sebelumnya juga pernah disebut dengan PNS.

Sedangkan Guru (Syaikh) yang mengajar di Masjid tidak memiliki ikatan sedikit pun dengan pemerintah dikarenakan dananya melalui masyarakat setempat, pemberian wakaf, bersama dengan syaikh masjid dapat melakukan kegiatan pendidikan sesuai dengan keinginan mereka. Hal ini pada saat sekarang bisa disebut dengan sekolah/pendidikan swasta.

3 thoughts on “MENGENAL PENDIDIKAN MELALUI PANDANGAN SEJARAH ISLAM”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *