ENGKAULAH SHALAHUDDIN AL AYYUBI ZAMAN NOW. Mr ERDOGAN

OLEH: MAYANG SARI LUBIS, MA.

`
Perang Salib pada periode pertama dalam sejarah disebut dengan periode penaklukkan (1096-1144). Perang ini semulanya digerakkan oleh seorang pendeta Peter dari Perancis, dan kemudian didukung oleh Paus di Vatikan, raja Kristen di Eropa dan kepala Kristen Ortodoks yang berkedudukan di Konstantinopel. Selanjutnya hasil dari jalinan kerjasama antara Kaisar Alexius I dan Paus Urbanus II juga berperan penting dalam membangkitkan semangat kaum Kristen, terutama akibat pidato Paus Urbanus II pada Konsili Clermont tanggal 26 November 1095 M. Gerakan ini yang dikenal dengan gerombolan rakyat jelata yang tidak mempunyai pengalaman perang, tidak disiplin, dan tanpa memiliki persiapan perang sedikit pun, yang dipimpin oleh Pierre I Ermite untuk pergi berperang merebut Palestina. Dari sinilah bermula suatu penyerbuan Barat Kristen ke Dunia Islam yang berjalan selama 200 tahun lamanya dari mulai 1096-1293 M dengan delapan kali penyerbuan.

Peran penting Shalahuddin Al-Ayyubi dalam membebaskan Palestina salah satunya dapat dilihat dari penyerangan Shalahuddin atas daerah Aleppo yang berhasil secara keseluruhan ditaklukkan. Kota Aleppo yang merupakan kota kedudukan Raja al-Malik as-Shaleh Putra dari Nuruddin Muhammad Zanky. Setelah dikuasai oleh Shalahuddin Aleppo, maka lahirlah perjanjian baru yang terjadi pada bulan Muharram 572 H/1176 M yang disebut dengan perjanjian perdamaian, karena tujuan utama dari serangan Shalahuddin di Aleppo bukanlah untuk menghina keluarga Nuruddin, melainkan tujuan yang sebenarnya adalah menyelamatkan negara itu dari ancaman orang-orang Nasrani atau Tentara Salib. Kemudian Shalahuddin mengumpulkan seluruh tentaranya untuk mempersiapkan diri melaksanakan tugas selanjutnya yaitu merebut kota Jerussalem.

Dikota Jerussalem pasukan muslim telah siap menghadapi orang-orang Nasrani Eropa yang merupakan sisa-sisa dari pertempuran Hitthin. Dengan sepenuh hati mereka telah membuat pertahanan yang sangat rapat. Apapun yang terjadi di kota Jerussalem, mereka beranggapan Jerussalem harus tetap berada ditangan mereka, begitulah pemikiran mereka. Bahkan mereka lebih baik mati dari pada kota Jerussalem jatuh ketangan orang-orang non Islam. Hal ini mendorong kaum muslimin segera mempersiapkan diri, dan Shalahuddin terus mengadakan pengamatan terhadap orang-orang Nasrani. Tujuan pengamatan itu adalah untuk menemukan celah-celah yang dapat dipakai untuk memasuki pusat kota. Tidak lama kemudian pengamatan beliau tidak sia-sia, ia menemukan celah untuk menerobos ke daerah lawan. Dengan begitu pertempuran tidak dapat lagi dihindarkan, akhirnya pada hari jum’at tanggal 27 Rajab 638 H merupakan hari bersejarah bagi kota Jerussalem. Karena pada hari itulah kota Jerussalem diserahkan kepada kaum muslimin melalui penyerahan kepada Shalahuddin.

Pada saat ini yang terjadi (2017) adalah kembalinya secara terang-terangan perebutan Jerussalem sebagai ibu kota yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina. Dikarenakan Israel mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat. Hal ini merupakan kejadian yang bisa diabadikan dalam sejarah yaitu berupa pidato Presiden Trump di Gedung Putih pada Rabu (06/12/2017), dengan mengatakan “Sudah saatnya untuk mengakui secara resmi Jerussalem sebagai ibu kota Israel,” tuturnya. Dan hal ini pun mendapat tanggapan langsung dari Presiden Erdogan “Saya ingin menyatakan kesedihan saya terkait dengan laporan bahwasanya Amerika Serikat sedang mempersiapkan diri untuk menyatakan Al-Quds (Jerussalem) adalah ibukota Israel. Al-Quds adalah ambang batas kesabaran umat Islam. Ketika luka penduduk Palestina semakin parah, pelanggaran HAM, persekusi dan serangan terus berlanjut. Dan mengambil keputusan yang mendukung Israel tidak hanya melanggar hukum internasional tetapi juga menginjak-injak nurani kemanusiaan. Sebagai tuan rumah pertemuan OKI kami akan menindaklanjuti permasalahan ini dengan tegas. Jika keinginan itu tetap dijalankan. Kami akan mengadakan pertemuan dengan pimpinan-pimpinan negara OKI di Istanbul dalam 5-10 hari. Dan kami bahkan akan melangkah lebih jauh lagi. Kami akan memobilisasi Muslim di seluruh dunia dengan adanya kejadian ini.”
Selang beberapa hari dari pernyataan Erdogan tersebut, maka Erdogan mengajak PM Malaysia untuk hadir dalam pertemuan OKI, dan PM Malaysia pun mengeluarkan pernyataannya bahwa “Saya tak ridha nasib umat Islam tertekan dalam apa pun jua keadaan, takkanlah tanah suci yang ketiga martabatnya dalam Islam tergadai, terhina, ditekan oleh orang lain, saya nak beritahu kepada mereka bahwa umat Islam akan tentang habis-habisan, sampai bila-bila kita tidak akan terima.” Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa PM Malaysia akan mendukung Erdogan dalam pertemuan OKI sekaligus dukungannya kepada Palestina, negeri yang sedang terjajah.

Hasil dari pertemuan OKI pun membuktikan pernyataan yang telah dikatakan oleh Erdogan sebelumnya, yang tidaklah bisa dianggap sebagai sebuah gertakan semata dalam menanggapi pernyataan Trump, karena dibarenginya dengan sikap yang nyata pula yaitu “Saya mengajak semua negara mendukung undang-undang internasional untuk mengakui Jerussalem sebagai ibu kota negara Palestina yang diduduki,” berlangsung di Istanbul pada Rabu (13/12).

Lagi-lagi Erdogan tak berhenti disitu saja dan melontarkan pendapatnya kembali yang menjadi viral di media pada tanggal (16/12) di Istanbul, Turki, yaitu “Jika kita kehilangan Al-Quds, maka kita tidak akan bisa melindungi Madinah, jika kita kehilangan Madinah, kita tidak akan mampu melindungi Makkah. Dan ketika Makkah jatuh, kita juga akan kehilangan Ka’bah. Jangan lupakan, Al-Quds adalah Istanbul, Islamabad dan juga Jakarta. Madinah adalah Kairo, Damaskus dan Baghdad. Ka’bah adalah kemuliaan, integritas, kehormatan, kebanggaan dan tujuan hidup semua umat Muslim. Kami tidak akan pernah menyerah untuk memperjuangkannya. Kami akan melakukan apapun untuk melindungi apapun yang telah diamanahkan oleh Allah SWT kepada kami dan pendahulu kami.”

Kesemua pendapat Erdogan mengartikan bahwa perjuangan yang dilakukannya tak akan pernah berhenti sampai Al-Quds (Jerussalem) kembali ke tangan Palestina, seperti yang pernah dilakukan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi pada masanya, yaitu membebaskan Palestina dari penjajahan. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *